Kenali Apa Itu Gangguan Skizofrenia dan Bagaimana Mengatasinya

Penyandang disabilitas mental adalah ODMK atau Orang Dengan Gangguan Jiwa yang dalam jangka waktu lama mengalami hambatan dalam interaksi dan partisipasi di masyarakat berdasarkan kesetaraan dengan yang lainnya.

Orang Dengan Masalah Kejiwaan atau ODMK merupakan orang yang memiliki masalah fisik, mental, sosialm pertumbuhan, dan perkembangan, dan atau kualitas hidup sehingga memiliki risiko mengalami gangguan jiwa.

Orang Dengan Gangguan Jiwa atau ODGJ merupakan orang yang mengalami gangguan dalam perilaku, pikiran, dan perasaan yang termanifestasi dalam bentuk sekumpulan gejala dan atau perubahan perilaku yang bermakna, serta bisa menimbulkan penderitaan dan hambatan dalam menjalankan fungsi orang sebagai manusia.

Permasalahan gangguan jiwa menurut Undang-Undang Kesehatan Jiwa No.18 Tahun 2014 merupakan permasalahan yang berkaitan dengan gangguan dalam pikiran, perilaku, dan perasaan yang termanifestasi dalam bentuk sekumpulan gejala atau perubahan perilaku.

Permasalahan gangguan jiwa bisa dialami oleh siapa saja, dan bisa menimbulkan beban tudak saja bagi penyandangnya namun juga bagi keluarganya, apabila tidak mendapatkan penanganan secara tepat.

Lalu, apa itu gangguan Skizofrenia?

Apa Itu Gangguan Skizofrenia?

Gangguan Skizofrenia merupakan gangguan jiwa yang penyandangnya sering mengalami pemasungan. Lebih dari 90% PDM yang mengalami gangguan jiwa ini.

Gangguan ini merupakan gangguan yang mudah dikenali dan berisiko untuk melakukan tindakan kekerasan akibat dari gejalanya.

Skizofrenia merupakan gangguan psikotik yang memiliki sifat dapat kambuh, menahun, dan jika kekambuhan semakin sering terjadi, maka orang dengan Skizofrenia (tingkat ODS) akan mengalami penurunan fungsi yang semakin berat.

Saat sakit, gangguan yang dialami meliputi:

1.Gangguan Perasaan

Gangguan perasaan yang timbul sangat bervariasi mulai dari emosi yang meningkat, meledak-ledak hingga emosi yang kosong, tanpa ekspresi.

Respon emosi yang diekspresikan juga bervariasi, bisa luas, menyempit, hingga mendatar tanpa ekspresi, termasuk bisa sesuai namun bisa juga tertawa geli atau tanpa kendali, tanpa alasan yang jelas dan tidak sesuai dengan konteks.

2.Gangguan Perilaku

ODS (Orang Dengan Skizofrenia) kronis cenderung tidak memperhatikan penampilannya, tidak mampu merawat diri, tidak menjaga kerapihan, tidak menjaga kebersihan dirinya, dan menarik diri secara sosial.

3.Gangguan Persepsi

ODS mengalami gangguan dalam sensasi dari panca inderanya, seperti:

  • Kesalahan persepsi tanpa ada stimulus yang nyata (halusinasi)
  • Kesalahan persepsi yang timbul terhadap stimulus yang nyata (ilusi)
  • Mengalami atau merasa bahwa dirinya tidak nyata
  • Berubah bentuk, atau asing (depersonalisasi)
  • Perasaan subyektif bahwa lingkungan sekitar berubah, tidak nyata,  atau asing (derealisasi)

4.Gangguan Pikiran

Gangguan pikiran yang dialami oleh ODS meliputi gangguan pada proses pikir dan isi pikir. Gejala yang biasanya dilaporkan oleh keluarga atau masyarakat diantaranya:

  • Bicara kacau
  • Bicara muter-muter
  • Bicara ketinggian
  • Gak nyambung
  • Kesamber

Gangguan isi pikir yang utama adalah waham, yaitu keyakinan salah yang tidaik sesuai dengan fakta, budaya, agama, nilai-nilai, dan status pendidikan, namun tetap dipertahankan walaupun telah diberikan bukti jelas untuk dikoreksi.

5.Gangguan Motivasi dan Neurokognitif

Di samping gejala-gejala diatas, Skizofrenia juga memiliki gejala lain yang berhubungan dengan motivasi dan kognitif (kemampuan berpikir).

Gejala yang berhubungan dengan motivasi di antaranya tidak memiliki minat atau kehendak, tidak berkegiatan, dan tidak mampu menata rencana sehingga menimbulkan disorganisasi.

Sementara gejala yang berhubungan dengan gangguan kognitif adalah konsentrasi / atensi, gangguan memori terutama memori jangka segera / pendek, dan menurunnya kemampuan untuk menyelesaikan masalah.

Gejala-gejala pada gangguan Skizofrenia sering mengakibatkan ODS tampil dalam kondisi gaduh gelisah hingga berisiko untuk melakukan kekerasan dan sulit dipahami sehingga sulit dibantu.

Kondisi ini sering terlambat dikenali sehingga terkesan tiba-tiba. Berpotensi untuk disalahartikan sebagai bagian dari proses budaya dan spiritual dianggap kesurupan, kemasukan roh / jin, keberatan nama / ilmu, bahkan dianggap sakti.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *