Apa Itu Mental Kepiting?

Pernahkah kalian mengamati perilaku kepiting ketika ditaruh ramai-ramai di dalam sebuah ember? Jika di letakkan bersama-sama di dalam sebuah tempat misalnya ember, maka beberapa kepiting akan berusaha untuk keluar dari tempat itu dengan memanjat pinggiran ember tersebut.

Lalu, apa yang dilakukan kepiting lainnya? Jika kalian berfikir mereka akan membantu atau mengikutinya, kalian salah.

Mereka akan menarik kembali kepiting yang berusaha memanjat dan ini terus bergantian di lakukan.

Jika ada yang berusaha memanjat lagi, maka kepiting lain akan menarik kembali. Akhirnya, semua kepiting tersebut akan tetap terjebak di dalam ember tersebut.

Yuk Buang Sifat Mental Kepiting Yang Ada Dalam Diri Kita

Kejadian kepiting di dalam ember tersebut mungkin saja terjadi di sekeliling kita, misalnya di kantor tempat kita bekerja.

Seringkali kita menemukan rekan kerja yang masih bermental kepiting seperti ini. Yaitu tidak senang melihat rekannya tumbuh dan berkembang.

Seseorang yang bermental kepiting akan menghabiskan energy nya untuk menghambat karir rekannya dengan berbagai cara, misalnya dengan selalu menjelek-jelekkan, tidak memberi kesempatan anak buah untuk maju dan menebarkan energy negative di kantor.

Orang yang bermental kepiting seperti ini tidak senang jika melihat irang lain maju dan sebaliknya, malah senang jika melihat orang lain susah dan sengsara.

Orang yang memiliki mental kepiting ini bisa di pastikan karir nya akan pas-pasan dan tidak berkembang di kantor.

Karena energinya di habiskan bukan untuk hal-hal positif dan bermanfaat, namun habis untuk menjatuhkan orang lain.

Coba saja jika seandainya seluruh energinya di gunakan untuk hal-hal positif untuk meningkatkan skill dan kompetensi.

Hasilnya pasti akan luar biasa, karir melesat dan dicintai orang sekeliling kita. Hasilnya akan jauh berbeda.

Ingantal hukum tebar tuai dimana orang yang menebar hal-hal baik dan positif maka akan memanen hasil yang positif dan bermanfaat.

Jadilah menjadi sebaik-baik manusia, yaitu selalu memberikan manfaat kepada orang lain di sekitar kita, bukan malah membaa celaka untuk orang lain.

Coba cek di sekeliling kantor kita, siapa yang kira-kira masih bermental kepiting. Atau jangan-jangan diri kita sendiri.

Jika iya, yuk mulai perbaiki diri dan menjadi orang yang lebih baik lagi. Marilah belajar dan tidak menjadi pribadi yang bermental kepiting.

Jadilah orang yang bermental semut yang selalu bersinergi, berkolaborasi, dan bersilahturahmi dimanapun berada.

Semut akan selalu berjuang, tumbuh, dan berkembang secara bersama-sama. Dunia berubah begitu cepat, bila tidak berubah kita akan punah.

Ada yang sadar akan perubahan kemudian melakukan perubahan. Ada yang sadar akan perubahan kemudian mengajak orang lain berubah.

Ada yang sadar akan perubahan, namun ia enggan berubah dan menyajak orang lai untuk tidak berubah. Kelompok seperti ini lah yang dimaksud mental kepiting.

Kita akan merugi bila terpengaruh ucapan atau ajakan orang yang bermental kepiting. Kita tak akan mampu meraih kehidupan yang lebih baik jika berada di lingkungan orang-orang bermental kepiting.

Segaralah sadari diantara teman-teman kalian yang bermental kepiting. Tidak sulit menemukan mereka.

Ciri utamanya adalah menghambat kita untuk maju atau menghalangi kita untuk mengambil keputusan yang bernyali. Jauhi dan jangan dengarkan mereka.

Kenapa kita harus menjauh? Karena sebenarnya mereka sedang mencari teman agar bisa tetap hidup di dasar keranjang.

Walaupun setelah kita mengambil pilihan tetap di dasar keranjang, mereka tidak peduli dengan kehidupan kita  

Cara Menjaga Kesehatan Mental Selama Pandemi

Pandemic virus Corona tak bisa dipungkiri selalu menimbulkan keresahan. Jutaan orang terinfeksi di seluruh dunia, ratusan ribu orang meninggal serta ratusan ribu lainnya mengalami penyakit serius dan efek kesehatan jangka panjang.

Namun, bukan hanya itu saja efek pandemic ini, pandemic ini bahkan mengancam kesehatan mental banyak orang.

Mulai dari kecemasan yang terus menerus seputar virus dan kemungkinan infeksi, hingga kekhawatoran tentang orang-orang tercinta yang tinggal jauh serta mereka yang membutuhkan fasilitas perawatan jangka panjang.

Bahkan, sampai terjadi pertengkaran dengan pasangan dan anak-anak yang belakangan ini seringkali terjadi.

Cara Menjaga Kesehatan Mental Selama Pandemi Corona

Lalu, apa saja yang bisa kita lakukan utnuk menjaga kesehatan mental kita selama maa karantina ini? Bagaimana kita bisa mendapatkan bantuan yang kita butuhkan tanpa membahayakan kesehatan fisik?

Berikut ini beberapa cara yang bisa dilakukan untuk menjaga kesehatan mental selama pandemic virus corona ini.

1.Bertemu Online Dengan Keluarga dan Teman

Dunia mungkin terkunci, namun internet masih berfungsi, itulah salah satu dari sekian banyak kabar baik bagi kesehatan mental kita.

Dengan koneksi internet, kita masih bisa menghubungi keluarga serta kakek nenek yang ada di kampong halaman, mengobrol dengan orang tersayang yang tinggal jauh, berbicara dengan guru sekolah tentang rencana pelajaran atau menghubungi teman-teman dekat untuk tertawa bersama.

Koneksi online semacam ini bisa menjaga kesehatan mental kita selama masa karantina, jadi kalian bisa memanfaatkan alat teknologi yang kalian miliki.

2.Jadwalkan Sesi Terapi Online

Kalian mungkin pernah mendengar kisah tentang tukang cukur dan penata rambut yang mengandalkan panggilan video dengan klien mereka, mebimbing mereka langkah demi langkah untuk membatu mereka memotong rambut mereka sendiri.

Jika sesuatu yang sepele seperti memotong rambut dapat dilakukan dengan obrolan video, mengapa tidak sesuatu yang mendalam seperti terapi?

Sesi terapi online bisa menjadi hal yang tepat untuk menjaga kesehatan mental, membangkitkan semangat, memberi mekanisme mengatasi apa yang kita butuhkan, dan membantu kta melewati masa karantina dengan kondisi emosional yang baik.

Jika kalian sudah pernah menemui terapis, coba tanyakan apakah mereka dapat mejadwalkan sesi pengobatan jarak jauh melalui video.

3.Bantu Orang Lain Yang Membutuhkan

Banyak orang yang terena imbas secara ekonomi akibat pandemic virus corona, terutama di masa karantina.

Selain banyak orang kehilangan pekerjaan, jutaan usaha kecil di ambang kehancuran finansial. Realitas Konomi akibat pandemic virus corona benar-benar meresahkan.

Dalam kondisi ini, kamu bisa menjadi secercah cahaya bagi orang yang membutuhkan. Yang kamu perlukan hanyalah waktu dan keinginan untuk mewujudkannya.

Kamu bisa membagikan makanan untuk orang yang membutuhkan, menggalang sumbangan untuk membeli alat kesehatan yang kemudian disumbangkan ke rumah sakit atau membagikan masker sekaligus mengedukasi orang-orang yang tak bisa tinggal di rumah karena harus bekerja.

Tidak ada yang lebih baik dari berbagi, terutama ketika ada begitu banyak orang lain yang sangat membutuhkan.

4.Manjakan Diri

Keinginan untuk memanjakan diri sendiri akan selalu tampak menggoda dalam menghadapi pandemic virus corona ini.

Namun, taka da salahnya kalau kamu memperlakukan diri sendiri dengan istimewa. Jika kamu merasa lelah dan berada di ambang krisis kesehatan mental, luangkan waktu sebentar untuk bernapas, rileks, dan lakukan sesuatu hanya untuk diri sendiri.

Kamu bisa menonton film dan acara TV Favorit, menikmati mandi busa, atau membaca buku sambil menyeruput secangkir teh.

Itulah beberapa cara untuk menjaga kesehatan mental kita selama pandemic virus corona ini. Semoga kalian semua selalu sehat dan dilindungi.

Hubungan Kesehatan Mental dan Kesehatan Fisik Yang Harus Kamu Perhatikan

Tubuh dapat dibilang benar-benar sehat jika kita menjaga kesehatan dan mental sekaligus, karena keduanya saling berhubungan.

Kesehatan fisik yang buruk dapat meningkatkan risiko terganggunya kesehatan mental. Sebaliknya, kesehatan mental yang buruk dapat mengakibatkan menurunnya kesehatan fisik kita.

Kesehatan Mental dan Fisik Yang Sama Pentingnya

Menurut Charles Goodstein, MD, seorang profesor psikiater klinis dari New York University’s Langone School of Medicine, otak kita memiliki hubungan yang erat dengan sistem endokrin yang bekerja sebagai pelepas hormone.

Hormone ini berpengaruh pada kesehatan mental kita. Pikiran dan perasaan kita dapat mempengaruhi hormone yang dilepaskan dari sistem endokrin yang kemudian akan mempengaruhi sistem kerja organ tubuh kita.

Ia juga mengatakan bahwa seringkali pasien datang ke dokter dengan keluhan pusing, letih, dan gangguan di perut.

Ternyata, penyebabnya adalah depresi, walau si pasien tidak secara terang-terangan merasa depresi.

Lalu, apa sih contoh pengaruh kesehatan mental terhadap kesehatan fisik?

Misalnya depresi, depresi dapat meningkatkan risiko seseorang terkena penyakit jantung, stroke, diabetes, dan kanker.

Kemungkinannya adalah karena depresi akan mempengaruhi sistem kekebalan tubuh dan kebiasaan-kebiasaan sehari-hari yang berkaitan dengan depresi juga dapat meningkatkan  risiko terkena penyakit.

Misalnya seperti kurang aktivitas fisik dan menurunnya nafsu makan yang tentu saja akan mengurangi kesehatan tubuh.

Orang yang mengalami gangguan kesehatan mental atau sudah di diagnose mengalami depresi biasanya mengalami susah tidur, merasa mudah letih, konstipasi, tidak nafsu makan. Hal ini tentunya akan memberi dampak pada kesehatan fisik kita yang lainnya.

Selain itu, orang yang mengalami kecemasan, atau anxiety berisiko mengalami gangguan fisik yang berkaitan dengan tekanan darah. Umumnya adalah tekanan darah tinggi.

Lalu, apa yang harus dilakukan?

1.Berolahraga

Selain dapat menjaga kesehatan fisik kita, olahraga juga penting untuk menjaga kesehatan mental kita.

Penelitian menunjukkan bahwa berolahraga akan melepaskan hormone endorphin yang akan membuat kita merasa senang.

Kalian juga tak perlu berolahraga terlalu lama. Cukup jalan pagi selama 1-15 menit saja sudah cukup untuk meningkatkan energy dan membuat mood kita menjadi positif.

Jika kalian tak sempat berolahraga, yang penting kalian banyak melakukan aktivitas fisik.

2.Menjaga Pola Makan Sehat

Nutrisi dibutuhkan untuk mendukung kesehatan fisik dan mental kita.  Terapkan pola makan sehat dengan mengonsumsi protein, lemak esensial, karbohidrat kompleks, vitamin, mineral atau air putih dalam jumlah yang cukup.

Dengan menerapkan pola hidup yang sehat, fisik dan pikiran kita juga akan terasa lebih sehat dan tidak memicu sesuatu yang negative.

3.Tidur Yang Cukup

Kurang tidur bisa mempengaruhi kesehatan jantung, meningkatkan berat badan, dan tentu saja bisa mempengaruhi mood kita yang akan berpengaruh pada kesehatan fisik dan mental kita.

4.Lakukan Pemeriksaan Rutin

Dalam hal ini bukan hanya untuk memantau kesehatan fisik kita namun juga kesehatan mental. Jadi, jika kalian merasa mengalami gangguan secara mental atau emosional, jangan pernah ragu untu bertemu dan berdiskusi dengan ahlinya.

Selain itu, luangkan juga waktu untuk berlibur atau sekedar bertemu dan berkumpul dengan teman-teman terdekat kalian.

Selalu beranikan diri untuk bisa lebih terbuka dan berbicara atau curhat kepada orang terdekat.  Karena, secara tidak langsung, dengan curhat kita akan bisa merasa  lebih tenang sehingga tidak memicu stress.

Semoga kalian juga selalu berada dalam kondisi yang sehat.

Kenali Apa Itu Mental Illness dan Penyebabnya

Kondisi mental merupakan dasar emosi yang mempengaruhi aktivitas sehari-hari, termasuk cara berpikir, berkomunikasi, belajar, serta ketahanan psikologis dan rasa percaya diri.

Saat seseorang mengalami tekanan mental yang sangat mengganggu sehingga menghambat aktivitas, maka kondisi tersebut merupakan mental illness.

Lalu, apa sih sebenarnya mental illness itu?

Pengertian Mental Illness

Mental illness atau gangguan kejiwaan merupakan gangguan mental, perilaku, dan emosional yang menyulitkan anda bekerja, bersosialisasi, dan beraktivitas lain.

Sama seperti penyakit fisik yang berbeda-beda jenis dan tingkat keparahannya, gangguan kejiwaan pun punya beberapa jenis.

Ada berbagai macam gejala mental illness, berdasarkan jenis gangguan mental tersebut. Gejala yang terjadi bisa menyerang fisik maupun psikologis, serta berpengaruh pada emosi dan pikiran.

Contohnya adalah:

  • Perasaan sedih dan sulit merasa bahagia
  • Kebingungan saat berpikir serta menurunnya kemampuan untuk berkonsentrasi
  • Perasaan cemas yang berlebihan
  • Sering merasa takut
  • Perasaan bersalah yang terus-menerus
  • Suasana hati yang sering berubah-ubah
  • Cenderung menghindar dari teman dan aktivitas yang disukai
  • Sering merasa lelah dan tidak berenergi, tapi sulit tertidur
  • Terpisah dari kenyataan, delusional atau berhalusinasi
  • Tidak mampu menanggulangi masalah atau stres
  • Sulit memahami situasi dan orang di sekitar
  • Mengonsumsi alkohol secara berlebihan dan penyalahgunaan obat terlarang
  • Perubahan signifikan pada pola makan
  • Perubahan pada hasrat atau dorongan seksual
  • Kemarahan yang berlebihan dan mengarah pada kekerasan
  • Pikiran untuk mengakhiri hidup

Terkadang, gejala mental illness juga muncul secara fisik, misalnya nyeri punggung, sakit perut, sakit kepala atau nyeri dan rasa sait yang tidak dapat diketahui penyebabnya.

Penyebab dan Risiko Mental Illness

Secara umum, gangguan mental disebabkan oleh factor yang bervariasi, dari genetic atau factor keturunan maupun lingkungan.

  • Faktor Genetik

Penyakit mental bisa diwariskan dari garis keturunan, gen tertentu bisa membawa risiko terjadinya penyakita mental.

  • Paparan saat dalam kandungan

Konsumsi alcohol, penyalahgunaan obat-obatan, paparan zat kimia berbahaya dan beracun pada ibu hamil, beresiko menyebabkan gangguan pada janin, termasuk risiko gangguan mental terhadap perkembangannya.

  • Senyawa kimia di otak

Neurotransmitter adalah zat kimia pada otak kita yang berfungsi membawa sinyal saraf ke seluruh bagian tubuh. Ketika jaringan saraf dan zat kimia ini terganggu, fungsi penerima saraf berubah, dan bisa mengarah memicu depresi maupun gangguan emosi lain.

Cara Menangani Mental Illness

Siapa saja bisa mengalami mental illness tanpa melihat usia, jenis kelamin, kondisi social ekonomi, suku dan ras, agama, maupun orientasi seksual.

Meskipun begitu, namun gangguan ini bisa mulai terlihat pada usia 24 tahun. Di berbagai jenis, ada yang termasuk ringan dan hanya sedikit mengganggu seperti phobia tertentu.

Namun, ada juga yang menyebabkan gangguan mental parah sehingga membutuhkan penanganan secara medis di rumah sakit.

Kebanyakan orang dengan mental illness merasa malu untuk berkonsultasi ke dokter atau membicarakannya.

Padahal, kondisi ini merupakan kondisi medis seperti penyakit fisik yang bisa ditangani. Ada beberapa metode untuk membant orang-orang dengan masalah mental, seperti:

  • Psikoterapi

Terapi ini menggunakan metode interaktif dengan pendekatan psikologis. Dikenal juga dengan terapi berbicara, psikoterapi dilakukan melalui “curhat” antara pasien dan terapis.

  • Pengobatan

Obat-obatan bisa diberikan oleh dokter spesialis kejiwaan atau psikiater untuk meringankan gejala yang dirasakan.

Beda jenis mental illness tentu saja berbeda pula cara penanganannya. Jenis gangguan psikotik yang menyerang pikiran biasanya bisa diobati secara medis.

Sementara itu, gangguan kepribadian lebih baik ditangani dengan psikoterapi. Namun, hasilnya juga akan berbeda di setiap individu.

Kenali Ciri Mental Breakdown dan Cara Menanggulanginya

Mental breakdown atau yang sering disebut dengan nervous breakdown merupakan kondisi stress berat yang menimpa seseorang hingga ia tidak bisa menjalankan fungsi normalnya sebagai manusia.

Istilah ini sebenarnya sudah tidak lagi digunakan di dunia medis karena dirasa kurang spesifik. Dulunya, istilah ini memng digunakan untuk penyakit mental.

Penyakit itu antara lain depresi, gangguan kecemasa, atau stress akut. Namun sekarang, istilah ini lebih sering digunakan secara awam untuk menggambarkan kondisi seseorang yang sedang merasakan gejala stress secara intens hingga tidak bisa berfungsi dengan baik.

Ciri-Ciri Mental Breakdown

Mental breakdown bukannlah bagian dari penyakit mental yang spesifik, maka orang yang mengalaminya pin biasanya tidak memiliki gejala yang terlalu spesifik selain kesulitan berkegiatan sehari-hari.

Meski begitu, beberapa kondisi ini bisa dilhat sebagai tanda seseorang sedang mengalami mental breakdown:

1.Mengalami Gejala Gangguan Kecemasan dan Depresi

Orang yang mengalami mental breakdown, biasanya tidak akan terlihat jauh berbeda dengan penderita gangguan kecemasan atau depresi.

Saat hal ini terjadi, kamu mungkin akan merasa ingin terus menangis atau bahkan menangis secara tiba-tiba tanpa pemicu yang jelas dan tak bisa berhenti.

Beberapa orang lainnya juga dapat merasakan rasa percaya diri nya turun drastic dan merasa mereka tidak berharga.

Mengalami hal ini juga memicu penderitanya merasa bersalah terhadap segala hal yang terjadi dalam hidupnya.

2.Tidur Terus Menerus Atau Tidak Tidur Sama Sekali

Perubahan pola tidur yang drastic juga perlu di perhatikan sebagai ciri mental breakdown. Orang yang sedang mengalami hal ini bisa saja tidur terus menerus hingga tidak ingin masuk kerja atau sekolah.

Sebaliknya, kondisi yang sama juga bisa menyebabkan insomnia. Mereka akan kesulitan tidur. Sebab, otak mereka tidak bisa rileks dan terus menerus memikirkan masalah yang sedang dialami tanpa mendapat solusi.

3.Selalu Merasa Lelah

Lelah yang dimaksud disini bukanlah rasa lelah biasa yang bisa mampir pada setiap orang. Rasa lelah yang terjadi saat mental breakdown biasanya terasa sangat berat dan membuat kamu benar-benar tidak bisa beraktivitas seperti biasa.

Bahkan, hal yang biasanya kamu anggap menyenangkan akan terasa melelahkan saat dilakukan sehingga kehilangan daya Tarik.

4.Perubahan Nafsu Makan

Sama seperti pola tidur, perubahan pola makan secara drastic juga bisa terjadi pada orang yang sedang mengalami hal ini. Nafsu makan bisa menurun secara drastic atau sebaliknya, meningkat sangat tajam.

5.Merasakan Sakit Secara Fisik

Meski adal gangguan awalnya dari psikis, namun hal ini bisa merembet ke gangguan fisik dan memicu berbagai penyakit seperti sakit kepala dan sakit perut.

Sakit fisik ini biasanya akan datang secara tiba-tiba dan tidak diketahui asalnya.

6.Sulit Fokus

Saat mengalami mental breakdown, kamu akan terlihat linglung dan sulit focus. Seolah-olah otak sedang berkabut dan tak bisa berpikir jernih. Pada beberapa kasus hal ini bisa menyebabkan disorientasi dan hilang ingatan sementara.

7.Sesak Napas

Sesak napas merupakan ciri dari banyak gangguan mental terutama gangguan kecemasan. Selain sesak napas, napas yang tersenggal-senggal secara tiba-tiba juga bisa menandakan kamu sedang mengalami mental breakdown.

Agar kondisi ini bisa diatasi, kalian bisa berkonsultasi ke dokter, menjalani terapi kognitif atau berkonsultasi dengan psikiater, menjalani terapi alternative seperti yoga, mengurangi konsumsi alcohol dan kafein, dan mencoba cara-cara untuk bisa tidur dengan tenang.